Rabu, 13 November 2013

Konsorsium Revitalisasi Kota Tua Jakarta

Konsorsium Revitalisasi Kota Tua Jakarta menargetkan dapat membuka 11.400 lapangan kerja baru dalam lima tahun revitalisasi.

Eksekutif puncak Badan Pelaksana Konsorsium, Lin Che Wei, mengatakan hal itu akan dicapai dengan mendorong para partner bisnis untuk memindahkan bisnisnya ke lokasi kawasan Kota Tua.

Selain itu, selama lima tahun atau pada 2018 mendatang, sebanyak 85 gedung ditargetkan akan diperbaiki di atas tanah seluas 73.000 meter persegi.

"Kami akan mendorong preservasi dan konservasi gedung-gedung tua," kata Lin.

Selain itu, keragaman budaya juga akan diangkat selama lima tahun itu antara lain dengan melakukan pagelaran 190 seniman, 30 pagelaran public arts, dan pertunjukan 24 kesenian.

Dengan adanya revitalisasi, Kota Tua ditargetkan dapat menggaet 800 tempat usaha baru, menampung 15.000 penghuni pemukiman baik apartemen maupun rumah susun dan pemukiman warga.

Anggaran revitalisasi Kot Tua sebesar Rp72 triliun akan dialokasikan untuk pengembangan warisan arsitektur, pertunjukan seni dan kebudayaan, pengaturan unit ruang tinggal, dan riset serta advokasi.

"Advokasi penting untuk mendapatkan pengakuan dunia, kita berharap Kota Tua bisa masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO," kata Lin.

Rabu, 02 Oktober 2013

Robot Pemetik Stroberi Matang

Sebuah robot memetik stroberi matang pada saat sang petani menikmati tidurnya pada Rabu diresmikan di Jepang, dan pengembangnya mengatakan robot tersebut bisa mengurangi dua pertiga beban kerja mereka.

Perangkat itu, yang dapat memetik, mengumpulkan setangkai buah setiap delapan detik, menggunakan tiga kamera untuk menentukan stroberi siap petik sebelum lengannya melesat keluar dan stroberi petikannya dimasukkan ke keranjang.

Robot dua meter itu bergerak di rel di antara deretan stroberi, yang biasanya ditanam di perkebunan rumah kaca di Jepang.

Robot dilengkapi alat yang "menghitung tingkat kematangan warna stroberi, yang mengamati dengan dua kamera digital", kata Mitsutaka Kurita, seorang pejabat Shibuya Seiki yang mengembangkan mesin itu.

"Robot ini juga menggunakan gambar dari dua kamera untuk menghitung jarak dari target, kemudian mendekati stroberi yang menjadi tujuannya," katanya.

Sebuah kamera ketiga kemudian mengambil gambar rinci tentang buah, yang digunakan sebagai perhitungan terakhir sebelum bergerak untuk memetik.

Pertanian stroberi sangat padat karya, membutuhkan 70 kali lebih teliti dari menanam padi, membutuhkan dua kali lipat dari tomat dan mentimun, kata pernyataan pengembang Organisasi Penelitian Pertanian Nasional Pangan.

"Robot ini akan memanen dua-pertiga dari stroberi pada malam hari ketika petani sedang tidur," kata Kurita. "Petani kemudian dapat mengambil sisa stroberi yang robot tidak bisa mendapatkan," katanya.

Robot tersebut akan dijual awal tahun depan dengan harga sekitar lima juta yen (sekitar 50.000 dolar AS). Stroberi tersedia sepanjang tahun di Jepang, di mana mereka biasanya dijual dengan harga setidaknya 500 yen untuk keranjang bundar kecil.